23 Februari 2013

JANJI


Janji Adalah Kesungguhan Hati
Lebih Dari Sekedar Komitmen

Lebih Baik Berjanji Dari Hati Kepada Tuhan
Dari Pada Berjanji Dari Mulut Kepada Manusia

Manusia Mudah Mengingkari

Tapi Tuhan Tak Pernah Gagal
Ia Selalu Menepati Janji-janjiNya

21 Februari 2013

KESEMPATAN KEDUA

 Ketika kita "terjatuh" .....
Bagi kita masih ada kesempatan kedua .....
Kemudian kita "terjatuh" lagi .....
Selalu ada kesempatan ketiga, keempat, dan seterusnya .....

Pada satu titik .....
Kita mengaku dihadapanNya
Dia pun sudah mengampuni ketika kita memohon ampun kepadaNya
Berapapun kesempatan yang sudah kita jalani
BagiNya dan selamanya hanya ada kesempatan kedua


Tuhan Itu Pemurah

Ia tidak menghitung-hitung kegagalan masa lalu kita
Ia pun tidak mencatat kesalahan kita
Bahkan bagiNya semua itu tidak pernah terjadi
Karena Ia telah melupakannya

* * *


"Ketika kita mencabut akar pahit tapi melemparkannya ke tanah yang subur, itu sama saja kita memberikan kesempatan kepada akar itu untuk tumbuh kembali"


Inspirator : Ernest J.Cowper-Smith

20 Februari 2013

METEOR JATUH

   Beberapa hari yang lalu dunia sempat dikejutkan oleh peristiwa jatuhnya sejenis meteor raksasa ke bumi. Tanpa bisa diprediksi dan dicegah, meteor dengan berat lebih dari seratus ton tersebut masuk melintasi langit Russia dan jatuh di sekitar daerah yang berlapis es atau salju. Masyarakat di sana sempat kaget karena ledakan suaranya yang cukup keras dan daya dentumannya ketika bergesekan dengan atmosfere bumi menyebabkan kerusakan fisik yang lumayan pada bangunan-bangunan yang tepat berada dibawah kawasan kejadian. Coba anda bayangkan jika bumi kita tidak memiliki atmosfere, pasti bencana yang lebih besar bisa saja terjadi dan bumi kita lambat laun akan rusak dan hancur.
   Kejadian jatuhnya meteor di Russia telah mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak saja menciptakan bumi dan segala isinya, tapi Dia juga peduli dengan melindunginya dari setiap benda langit lain ciptaanNya yang juga bergerak dalam satu keselarasan lintasan alam raya. Meteor yang jatuh pun tidak seluruhnya lenyap atau hancur saat berhadapan dengan lapisan atmosfere bumi, tapi masih menyisakan bagian tertentu yang ukurannya sudah jauh lebih kecil tapi tetap merupakan ancaman berbahaya jika jatuh. Hal itu menunjukkan bahwa walaupun Tuhan melindungi manusia di bumi, tapi Dia juga mengingatkan kita untuk senantiasa "waspada" dan selalu "berjaga-jaga" dengan berbagai macam cara sesuai talenta dan kemampuan akal budi pengetahuan yang kita miliki sebagai wujud karunia Tuhan bagi kebaikan dan kesejahteraan manusia.

17 Februari 2013

KEBUN STRAWBERRY

     Sukakah anda dengan buah strawberry? Selain rasanya enak, rata-rata orang suka dan tertarik untuk memakannya karena strawberry memiliki bentuk dan warna merah menyala yang menarik, apalagi anak-anak pasti menyukainya.
     Strawberry adalah jenis buah yang cara pembudidayaannya memerlukan penanganan khusus, karena pohon strawberry merupakan pohon yang daunnya mudah kering jika terkena terik sinar matahari secara langsung dan buahnya juga mudah busuk jika kondisi tanah lembab atau basah  di musim hujan sehingga faktor penyiramannya menjadi sangat hati-hati. Ia juga harus dipupuk agar pertumbuhan pohonnya bagus dan sehat sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu dengan penempatan kebun yang aman di dalam rumah kaca (Greenhouse) serta penggunaan plastik pelindung sebagai media penutup tanah agar terhindar dari hama maupun gulma, maka pohon strawberry akan tumbuh dengan layak sehingga menghasilkan buah yang baik dan berkualitas.
     Begitu juga dengan kehidupan Iman kita dapat diilustrasikan seperti sebuah "perkebunan strawberry". Dengan segala macam ujian dan pencobaan yang kita hadapi dalam kehidupan, kita diingatkan untuk tetap tekun dan taat beribadah kepada Tuhan. Dia akan memurnikan kita sehingga menjadi sempurna di mataNya. Selain itu kita juga akan memperoleh hikmat agar mampu bertahan melalui suatu proses pembentukan pribadi yang berkenan kepadaNya serta akan menerima janji berkat yang indah, melimpah dan tidak berkekurangan. 

Ilustrasi Kebun Strawberry

Pohon Strawberry = Iman
Perkebunan Strawberry = Pencobaan
Matahari dan Hujan = Ujian
Pemupukan dan Penyiraman = Ketekunan
Rumah kaca dan Plastik penutup tanah = Proses
Buah Strawberry = Hikmat
Panen Strawberry = Berkat

Alkitab :
Yakobus 1 : 2-4 
"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." "Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."


15 Februari 2013

KEKUATAN SEBUAH LAGU

     Menjelang peringatan Jumat Agung atau Pra Paskah, ada satu lagu yang menurut saya sangat bagus dan pas untuk kita dengarkan atau nyanyikan. Lagu ini memang jarang kita simak, tapi bagi yang mencintai lagu rohani kontemporer mungkin pernah mendengarnya.
     Lagu tersebut berjudul: "Yesus Berikan HidupNya." Dibawakan dengan penghayatan yang sangat baik oleh penyanyi yang sudah cukup terkenal dijalur pop bernama Adon. Lagunya sendiri diambil dari album rohani Adon yang bertitle: "Freedom." Dari sisi musik dan lirik sangat kuat sesuai dengan tema lagunya sehingga dapat membawa kita kepada emosi lagu itu sendiri.

Berikut ini lirik dari lagu tersebut:

YESUS BERIKAN HIDUPNYA
(Song & Lyric: Adon)

DarahMu tercurah, tebus dosaku
KasihMu memulihkan...
Bebaskan dan s'lamatkanku
Kau ubahkan hidupku

TubuhMu diserahkan, terpecah bagiku
BilurMu menyembuhkan...
Menyucikan... B'riku pengharapan
Jadikanku baru

Reff :
Yesus berikan hidupNya
Bagi diriku, bagi kes'lamatanku
Bahkan taat sampai mati
Agar ku hidup dalam kekekalanNya

Coda :
Kau mengasihi, Kau memulihkan
Bapak aku bersyukur
Utuslah aku dan pakailah hidupku
Menjadi saksiMu bagi dunia ini


12 Februari 2013

PEMAHKAMAN SEORANG BAYI

     Suatu hari F.W Boreham, seorang hamba Tuhan gereja setempat sedang bersiap-siap untuk pergi piknik bersama istrinya ke sebuah taman di tepi sungai tidak jauh dari rumahnya. Sebelum Ia bergegas keluar rumah untuk berangkat, ia melihat dari dalam jendela rumahnya seorang wanita tengah mondar-mandir diluar depan rumahnya seperti sedang dalam kesusahan dan tampak ragu-ragu untuk melangkah menuju pintu rumah mereka. Setelah memperhatikannya dengan seksama beberapa menit, akhirnya Boreham keluar dan bertanya kepada wanita itu apa yang ia bisa bantu. 
     Wanita itu bertanya: "Apakah anda seorang pendeta di gereja dekat-dekat sini? Boreham mengiyakan dan segera mempersilahkan wanita itu masuk dan duduk di tempat yang nyaman agar dapat menenangkan diri untuk bisa menceritakan maksud kedatangannya. Mereka kemudian terlibat dalam satu percakapan tentang sebuah kisah menyedihkan. Rupanya wanita itu telah kehilangan nyawa bayi yang baru saja dilahirkannya. Ia mengaku bahwa ia jarang ke gereja dan berharap ada seseorang yang dapat membantunya untuk menguburkan si bayi. "Suatu kehormatan bagi saya untuk melakukannya," kata Boreham. Ia lalu menanyakan penjelasan tentang keluarga serta keterangan dari wanita itu untuk dijadikan bahan laporan pencatatan ke lembaga yang berwenang. Penguburan pun segera diputuskan dilakukan besok sore. Kemudian wanita itu mohon pamit. Boreham mengatakan kepada istrinya bahwa wanita itu tampak gundah dan cemas saat menceritakan kejadian yang menimpa dirinya, sehingga membuat ia penasaran apakah ada bagian dari ceritanya yang belum ia ketahui, tapi ia mengabaikan pikiran itu.
     Ketika ia kembali dari piknik bersama istrinya karena hari sudah mulai senja, wanita itu akhirnya datang kembali ke rumah mereka. "Saya belum mengatakan semua yang sesungguhnya kepada anda," ia mengakui." Akhirnya Boreham mengetahui bahwa sebenarnya wanita itu belum menikah dan bayinya pun lahir dalam keadaan cacat. Wanita muda itu pun menangis sambil melanjutkan ceritanya lagi. "Tidak apa-apa, tenanglah..." semua pengakuanmu itu tidak akan mempengaruhi acara pemahkaman bayi anda besok." jawab Boreham. 
     Besok sorenya hanya ada tiga orang saja yang menghadiri acara kebaktian pemakaman, yaitu Boreham, istrinya dan wanita itu. Ketika penguburan berlangsung, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya hingga membuat mereka semakin hanyut dalam kesedihan. Tempat pemahkamannya pun masih baru, jadi bayi cacat wanita itu menjadi penghuni pertama yang dikuburkan di tanah kosong itu sendirian, ...sungguh memilukan. Mereka bertiga memegang payung sambil larut dalam suasana duka yang mendalam. Pendeta itu mengatakan bahwa ia jarang merasakan kesepian semacam itu sepanjang tahun-tahun pelayanannya. Ia pun membayangkan kepedihan dan ketakutan yang akan membayangi kehidupan wanita muda itu selanjutnya.
     Tapi seiring berjalannya waktu, wanita itu akhirnya menjadi salah satu anggota jemaat dimana Boreham melayani. Bahkan ia menjadi jemaat gerejanya yang paling setia. Wanita itu selalu datang menghadiri kebaktian, minggu demi minggu. 
     Mungkin orang bertanya: "Mengapa wanita itu pada akhirnya menjadi begitu setia datang ke gereja?" Tentunya karena disanalah bayinya dapat diterima dan dihargai sebagai manusia. Dalam arti tersendiri, gereja juga menjadi rumah barunya. Melalui kematian bayi yang ia cintai, gerejanya menjadi tempat di mana ada tangan-tangan yang menyambutnya dan merangkulnya dengan kasih. Gereja juga menjadi tempat di mana ia merasa dicintai dan diampuni, bukan sebaliknya. Baginya, gereja itu menjadi pintu gerbang bayinya menuju kehidupan di surga.


Sumber: "A Baby's Funeral", Karya F.W Boreman
Dari Buku: "The Grand Weaver", Karya Ravi Zacharias


Catatan:
Cerita yang sepintas seperti kebanyakan kita saksikan dalam sebuah drama atau film, tapi begitulah sesungguhnya tragedi yang pernah dialami oleh seorang anak manusia.

"Gereja adalah komunitas yang menyembuhkan, jika ada kekecewaan-kekecewaan didalamnya, pasti ada sesuatu hal yang berjalan tidak sesuai dengan rencanaNya"

RUMAH TUHAN













Adalah Jawaban doa                                 
Manifestasi Dari Kerinduan Bait Allah              
Yaitu Persekutuan Yang Lestari          
Yang Harus Selalu Disirami                          
Oleh Kehidupan Doa                                
"Karena RumahKu                                  
Akan Disebut                                           
Rumah Doa"