8 Oktober 2018

NUANSA BIRU



Paduan suara Poci pada acara kebaktian Komisi Dewasa yang diadakan di GKI Kwitang Pos Sindangkarsa. Kebetulan dresscode-nya dianjurkan dengan setelan busana warna biru.

25 September 2018

MENGHORMATI ORANG TUA

   Ketika kita beranjak dewasa, apa yang bisa kita lakukan untuk orang tua kita ? Jawabannya ada banyak cara. Salah satunya adalah dengan membuat mereka bahagia. Kita sebagai anak, kadang lupa untuk hal tersebut. Kita terlalu sibuk dengan urusan kita masing-masing hingga kita seperti jauh dari orang tua. Padahal orang tua kita justru sangat membutuhkan perhatian dari kita sebagai anak-anaknya dikala mereka memasuki usia senja. Bagi yang telah mapan bisa mengapresiasikannya dalam bentuk materi sebagai wujud cinta kasih dan balas budi kita kepada mereka yang telah membuat kita berhasil, merawat kita dengan baik serta dukungan dalam bidang pendidikan maupun karier.
   Menghormati orang tua jelas sekali di dalam Alkitab yang mengatakan: "Hormatilah ayahmu dan ibumu" sebagai hukum Tuhan yang kelima dari sepuluh hukum taurat. Meskipun demikian kita atau siapapun tanpa disadari mungkin saja masih suka berkata kasar kepada orang tua kita sendiri atau memperlakukan mereka tidak sebagaimana mestinya. Hal ini tentu bisa menyakiti perasaan mereka. Merekalah yang telah membesarkan kita, karena itu sampai kapanpun kita tidak akan bisa membalas semua kebaikan mereka kepada kita.
   Mungkin kedua orang tua kita telah pergi meninggalkan dunia ini, tapi hal tersebut janganlah menyurutkan niat kita untuk selalu mengenang serta hormat kepada mereka. Kita bisa melakukannya walaupun mereka telah tiada sebagai simbol dengan rajin bersziarah dan mengurus makamnya dengan baik. Karena ada saja makam orang tua yang rusak tidak terurus karena jarang ditengok oleh anak maupun keluarganya. Apakah kita juga mau seperti itu jika kelak kita mati ?
   Walaupun kita tidak minta dilahirkan, baik ibu maupun ayah harus kita hormati sampai akhir hayat mereka. Bila kita mengingat indahnya kegembiraan masa kecil kita yang bahagia bersama mereka, mungkin itu bisa membantu kita untuk menimbulkan kembali rasa cinta kita kepada mereka yang tanpa lelah dan tanpa pamrih membesarkan kita dengan nasihat-nasihat kebaikan yang diwariskan kepada anak cucu kita kelak, karena mereka jugalah yang pertama kali mengenalkan kita kepada Sang Pencipta kita.

Amsal 1 : 8
Hai anakKu, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu

Keluaran 20 : 12
Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu.

Efesus 6 : 1-3
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu -- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

ooOoo

23 Agustus 2018

SEMARAK MERDEKA


Acara Tujuh belasan di GKI Kwitang Pos Cililitan
19 Agustus 2018

16 Agustus 2018

89 TAHUN GKI KWITANG


   GKI Kwitang baru saja merayakan hari jadinya yang ke-89. Tema yang diangkat pada perhelatan tersebut adalah: "Restorasi Gereja," sedangkan sub temanya adalah: "Menjadi Signifikan dan Relevan."
   Agenda restorasi yang berarti usaha untuk mengembalikan bentuk asal dan fungsi gedung gereja secara fisik karena telah ditetapkan menjadi bangunan bersejarah atau termasuk ke dalam kategori cagar budaya, juga dapat diartikan sebagai restorasi iman jemaatnya yang diharapkan setiap pribadi dapat menjadi seperti pelita yang memberikan terang bagi sekitarnya sehingga apa yang dilakukan menjadi berarti dan nyata sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
   Poci yang pada tanggal 12 Agustus kemarin juga turut serta merayakannya, mengadakan acara kecil setelah kebaktian minggu yang diakhiri dengan peniupan lilin kue ultah yang dibuat secara sederhana serta mengadakan jamuan makan ala kadarnya berupa kue-kue tradisional yang berasal dari partisipasi sukarela para jemaat.

8 Agustus 2018

LAGU "KASIH"

   Pada bulan yang lalu tepatnya tanggal 14 Juli 2018, salah satu stasiun televisi nasional menyiarkan acara hiburan rutin mingguan yang menampilkan tembang-tembang kenangan lawas yang dinyanyikan oleh penyanyi atau grup yang sempat berjaya di era tertentu, salah satunya adalah band The Big Kids atau biasa di sebut The Big Brother. Dua penyanyi wanita senior bersuara hebat yang tergabung dalam kelompok tersebut adalah Imaniar dan Lidya Nursaid. Mereka membawakan sebuah lagu lama milik mereka dengan judul "Kasih" yang cukup populer di masanya tapi sudah sangat jarang dinyanyikan saat ini. Padahal jika kita simak reffren lagu tersebut sangat bagus dan Alkitabiah karena mencerminkan firman Tuhan tentang makna dari Kasih itu sendiri.
   Menurut pengakuan mereka, The Big Kids merupakan sebuah band yang membawa inspirasi dari indahnya harmoni perbedaan yang melatarbelakangi setiap personilnya. Sebuah contoh yang baik untuk diterapkan di kehidupan berbangsa saat ini.

Berikut lirik lagu tersebut : 

Bapaku kerap berkata
Bila kau hidup mengasihi sesama
Suatu saat engkau kan dapat bahagia yang sejati

Bila kau menanam duri
Tak mungkin kau menuai anggur
Apa yang kau cari sekarang mestinya hikmat Tuhan

Hari-hari lembaran usia
Harus kau tulis p'rilaku yang benar
Bila kau tutup buku nanti
Seperti pohon lebat buahnya

Reff : 
Kasih itu panjang sabar murah hati
Kasih itu lemah lembut tidak sombong
Kasih tidak memegahkan diri 
Namun kasih itu suci

Dunia ini akan lenyap namun kasih tinggal tetap
Mari kita saling mengasihi sebab Tuhan itulah Kasih

Ciptaan : Chris Manusama

22 Juli 2018

MENUJU BAKAL JEMAAT

Mari kita dukung dalam doa


Setelah mengarungi 39 tahun pelayanan dan seperti juga keinginan serta harapan para penatua dan kesanggupan seluruh jemaat GKI Kwitang Pos Cililitan, kiranya Tuhan menyertai proses pembajeman yang sedang berjalan hingga tercapai tujuan yang telah diagendakan bersama. Amin

21 Juni 2018

YESUS DENGAR DOAKU

Yesus... Tuhan... dengar doaku
Orang lain Kau hampiri, jangan jalan t'rus


   Kalimat diatas adalah bait dari reffrein sebuah lagu yang diambil dari Kidung Jemaat No.26 dengan judul: "Mampirlah, dengar doaku." Lagu ini menjadi begitu berkesan bagiku akhir-akhir ini, apalagi ketika mengenang peristiwa kepergian mama, ibuku yang telah berpulang ke rumah Bapa di sorga. Lagu tersebut merupakan salah satu lagu kesukaan mama. Aku sering mendengar mama menyanyikan lagu itu dengan penuh semangat dan bersukacita karenanya. Saya pun demikian lebih sering mendengar lagu tersebut dinyanyikan oleh mama di dalam kamarnya bila sedang menikmati waktu senggangnya. Mama suka sekali bernyanyi seorang diri melalui liturgi yang didapat dari gereja setiap minggunya, tentu saja hanya beberapa lagu saja yang sudah cukup familiar ditelinganya yang sanggup ia nyanyikan. Jadi menurutku lagu itu adalah lagu favoritnya.
   Jika menyimak lirik dari lagu tersebut, memang sepertinya pas buat mama yang telah memasuki masa usia lanjut 72 tahun, apalagi ditengah dunianya yang semakin sempit yang biasa dirasakan oleh kaum lansia karena mulai berkurangnya waktu kebersamaan dengan keluarga atau anak-anak yang telah tumbuh dewasa dan berkeluarga sehingga sebagian dari mereka sudah berpindah atau tidak tinggal serumah lagi dengannya.
   Satu hal yang mama senang dan selalu dirindukannya adalah pergi ke gereja. Hal ini dapat dimaklumi karena mama ke gereja hanya satu atau dua kali dalam sebulan. Karena letak rumah kami yang jauh hingga perjalanan menjadi cukup melelahkan bagi mama ditambah lagi dengan kondisi tubuh mama yang sudah semakin renta karena penyakit osteophorosis dan syaraf kejepit yang kurang bersahabat. Tapi hal tersebut tidak sedikitpun mengurungkan niat mama untuk selalu datang beribadah kepada Tuhan.
   Mama juga suka sekali jika bertemu dengan teman-teman seperjuangan seusianya di gereja Poci. Acara obrolan mereka tentunya menjadi momen yang sangat berkesan bagi mama ketika mereka berkumpul. Itu juga yang mungkin menyebabkan mama tidak mau jika di ajak untuk pergi ke gereja lain yang letaknya tidak jauh dari rumah kami karena mungkin mama akan mengalami kesulitan untuk memulai kembali bersosialisasi dengan jemaat baru yang belum banyak dikenalnya terutama orang-orang seusia mama yang mungkin juga sebagian telah merasakan kesukaran dalam hal berkomunikasi. Kegembiraan mama dengan membagi-bagikan foto kepada teman-temannya setiap kali datang ke gereja juga merupakan kenangan yang tidak bisa kami lupakan. Kejadian itu seperti pengingat akan kepergiannya. Perlu diketahui bahwa mama berserta keluarga mulai beribadah di GKI Kwitang Pos Cililitan sejak tahun 1983.
   Itulah sedikit mengenang tentang mama, ibuku tercinta yang telah berjuang sampai garis akhir melawan penyakit kanker stadium lanjut yang cukup mengejutkan kami sekeluarga walaupun secara medis jenis penyakit mama tersebut termasuk langka dan sulit untuk disembuhkan. Di tengah kondisinya yang lemah, seperti kebiasaannya menjelang tidur, mama masih melipatkan tangan untuk selalu berdoa bagi keluarga dan tentu juga doa untuk kesembuhan dirinya dari penyakit yang dideritanya. Aku juga demikian, dalam kesedihanku terus berdoa kepada Tuhan demi kesembuhan mama. Sebelum sakitpun mama juga rajin berdoa makan atau secara khusus semisal berdoa di dalam kamar terlebih dahulu jika akan berangkat meninggalkan rumah untuk bepergian jauh.
   Sebelum kepergiannya meninggalkan keluarga, sahabat dan dunia ini, melalui doa mama telah berserah kepada Tuhan bahwa ia mengatakan sudah siap jika melalui penyakitnya itu, mungkin saja saatnya Tuhan memanggil. Dan... ketika waktu itu tiba, ternyata Tuhan lebih sayang kepada mama. Tuhan mengangkat semua penyakit mama hingga akhirnya ibu yang sangat kucintai itu pergi bersama Yesus dengan tenang tanpa merasakan sakit seperti yang diinginkannya.

   Tentu kami sekeluarga sangat kehilangan, apalagi aku yang tinggal serumah dengan mama yang selama ini berusaha sebisa mungkin menemani mama di rumah agar beliau tidak sendirian dan merasakan kesepian. Karenanya kepergian mama bagiku seperti mimpi. Vonis enam bulan dari dokter untuk mama, ternyata cuma dua setengah bulan kesanggupan mama untuk bertahan dari penyakitnya itu. Jika melihat kondisinya yang terus menurun dari hari ke hari serta harus bergantung penuh dengan alat bantu pernafasan dan obat-obatan yang menopang kekuatan tubuhnya, aku dan keluargaku saat itu juga berserah kepada Tuhan apapun yang Tuhan izinkan untuk hidup mama. Cepat atau lambat, siap atau tidak siap kami semua harus rela menerima hal terburuk apapun dengan iklas. Mama dipanggil Tuhan pada hari Rabu, 14 Mei 2018, jam 9:30 Pagi.
   Mama yang selama ini juga telah merangkap tugas sebagai ayah, bagi kami adalah sosok wanita dan ibu yang hebat. Ini terbukti dari perjuangan mama dalam menghidupi keluarga sejak sepeninggalan ayah. Mama yang murah senyum juga berhasil menghantarkan aku, adik dan kakak-kakakku ke jenjang pendidikan tingginya masing-masing. Banyak hal positif yang telah diwariskannya kepada kami. Kebersamaan yang indah dengan keluarga serta jiwa sosial atau kepedulian mama kepada orang lain merupakan kenangan tak terlupakan sekaligus nasihat yang berharga bagiku agar kita bisa saling mengasihi satu sama lain. Berkat doa-doa mama setiap malam pulalah yang menjadikan kami sekeluarga dapat menjalani kehidupan yang diberkati oleh Tuhan seperti pengharapan seorang ibu yang telah melahirkan anak-anaknya. "SELAMAT JALAN MAMA."

Yohanes 14 : 2
"Di rumah Bapa-ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadaMu. Sebab aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu."

"Salam rinduku untuk mama, di tempat kudusMu Tuhan"...... Amin