8 Maret 2013

MERAWAT KEBAIKAN

   Negeri kita memiliki beberapa peninggalan bersejarah yang terawat sangat baik hingga sekarang. Dahulu tempat atau bangunan tersebut memang dibuat untuk keperluan bangsa asing yang singgah menetap di negeri ini. Contoh diantaranya adalah Kebun Raya Bogor dan Gereja Katedral Jakarta. Walaupun mereka datang sebagai bangsa-bangsa penjajah yang tentunya telah menorehkan sejarah kelam bahkan pengalaman pahit bagi mereka yang telah mengalaminya. Tetapi kita sebagai bangsa besar dan beradab yang ikut menghargai sejarah harus tetap mempertahankan peninggalan-peninggalan berharga tersebut untuk diwariskan kepada generasi penerus sebagai bagian dari kebudayaan masa lampau yang baik dan bernilai. Karena biar bagaimanapun banyak hal-hal positif yang bisa kita ambil dan pelajari dengan keberadaan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut. Kini sebagian besar diantaranya telah ditetapkan sebagai aset nasional yang harus dijaga dan dilestarikan keindahannya.
   Seperti halnya dalam sebuah kehidupan gereja, ada seorang jemaat yang dengan segala kelemahan dan keterbatasannya sebagai manusia telah melakukan kesalahan atau berbuat dosa. Padahal sebelumnya orang-orang menilainya baik, tapi kini mereka langsung men-capnya buruk tentang dirinya. Sekalipun orang yang bersalah itu telah bertobat, tidak bisa dipungkiri masih saja ada orang-orang yang tega memojokkannya dengan terus bergosip ria menyebar kejelekannya bahkan menambah-nambahkan alias memfitnah orang itu hingga orang lain percaya sampai akhirnya mereka menjauhi dan memusuhinya. Mereka yang yang telah mempergunjingkan orang tersebut telah lupa bahwa ia juga manusia berdosa dan tidak pernah berfikir bila suatu saat salah satu anggota keluarga mereka bisa saja melakukan kesalahan yang sama. Apa yang akan ia lakukan? Mungkinkah dia menggosipkan atau mempergunjingkan keburukan keluarganya sendiri?
   Jika kita mengaku sebagai anak Tuhan pengikut Kristus, tapi tidak mau memaafkan atau mengampuni orang yang telah melakukan kesalahan sekalipun orang tersebut telah bertobat dan mempertanggungjawabkan perbuatannya, apakah kita pantas datang ke gereja setiap minggu untuk menyembah dan memuji Tuhan Sang mengampun? Memang membicarakan keburukkan orang lain lebih mudah kita lakukan dibanding membicarakan kebaikan orang lain. Tidak sepatutnya kita berbuat seperti itu karena Allah sendiri tidak mengingat-ingat segala kesalahan yang pernah kita buat jika kita datang kepadaNya memohon ampun dan bertobat.
   Kita sebagai jemaat gerejawi justru harus melayani dan merangkul orang yang sedang 'jatuh' itu dengan KASIH tanpa syarat agar ia bisa kembali bersama kita menjalani kehidupan sebagaimana mestinya, karena dengan demikian kita telah merawat dan melestarikan karya kebaikan dan pengampunan Allah yang telah diwariskan kepada kita manusia berdosa.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar